



Ada-ada saja ide bisnis maestro pornografi asal Swedia, Milton Jr. Dia berniat membuka hotel khusus tanpa dipungut biaya untuk pasangan yang ingin menginap di hotelnya. Syaratnya hanya satu, pasangan harus merelakan video bercinta mereka disiarkan secara langsung dalam jaringan internet.
Ada larangan tak tertulis bagi kaum perempuan yang mandi di sumber air yang dikeramatkan ini. Mereka dilarang menutupi payudaranya. Alhasil, ritual pamer payudara pun semarak. Terutama di malam Jum’at Legi….
Ciuman berujung maut. Itulah yang dialami gadis asal Inggris ini, Jemma Benjamin. Remaja berumur 18 tahun itu menghembuskan nafas terakhir usai berciuman dengan teman prianya, Daniel Ross (21).Suatu kali, ia teringat pada masa kecilnya. Arthur ingat bahwa ia pernah memainkan sebuah permainan yang dinamakan “Magic Squares”. Permainan itu adalah permainan kata-kata, dimana sang pemain harus menyusun kata agar sama mendatar dan menurun hingga membentuk kotak. Dari permainan ini, ia kemudian mencoba berkreasi dengan menambah luasan kata-kata dengan bentuk yang lebih kompleks. Dan, untuk menyusun hal itu, ia memberi semacam pertanyaan untuk membuka kunci jawabannya.
TTS ala Arthur ini kemudian muncul pertama kali pada 21 Desember 1913. Bentuknya waktu itu dibuat dengan pola ketupat. Sederhana dan sangat mudah dimainkan. Namun, justru dengan kesederhanaan dan kemudahan ini, membuat banyak orang langsung menyukai permainan ini. Maka, kesuksesan ini segera diikuti oleh berbagai media lain. Dan, saking suksesnya, permainan ini pun dibukukan pada tahun 1924.
Kemudian, pada tahun 1942-an, New York Times, koran ternama di Amerika membuat semacam standar untuk TTS. Standar itu seperti bentuk yang simetris dan panjang kata minimal tiga huruf. Hal ini membuat permainan TTS makin asyik dan populer, hingga akhirnya menyebar ke berbagai belahan dunia.
Bunga matahari atau Helianthus annuus yang berwarna kuning cerah tentu menambah keindahan taman atau kebun Anda. Namun, apakah bunga ini benar-benar menghadap ke arah matahari seperti namanya?
Baik daun maupun bunga dari bunga matahari bersifat heliotropis, yaitu, selalu mengikuti cahaya matahari. Tanaman bunga matahari menyimpan auxin. Auxin merupakan suatu hormon tanaman yang mengendalikan pertumbuhan. Biasanya jumlah auxin lebih banyak di sisi yang jauh dari sinar matahari. Itulah penyebab batang bunga matahari selalu tumbuh ke arah sinar itu. Tetapi, bunga yang sudah mekar penuh tidak lagi bersifat heliotropis. Meski demikian bunga matahari selalu menghadap ke arah timur.
Saat ini, bunga matahari memiliki nilai ekonomis. Biji bunga matahari bisa digunakan untuk menghasilkan minyak yang sangat bagus mutunya. Minyak tersebut bisa digunakan dalam masakan, saus salad, dan margarin. Biji bunga matahari memiliki nilai gizi yang tinggi.
Video rekaman penampakan sesosok mahluk yang diduga tuyul membuat geger warga Bogor. Rekaman itu dengan cepat menyebar melalui handphone. Rekaman video tersebut dibuat oleh seorang remaja SMP di dekat rumahnya di daerah Sukamantri, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor, sekitar 6 bulan lalu. Namun hingga kini penampakan tuyul itu masih ramai menjadi perbincangan warga. Apalagi, salah satu remaja yang terekam dalam video itu langsung jatuh sakit selama 3 bulan.
“Kejadiannya sih sudah lama, sekitar enam bulan lalu. Saat itu tiga anak SMP sedang main gitar di teras rumahnya. Kemudian salah satu temannya merekam kedua rekannya yang sedang main gitar dan bernyanyi itu. Tiba-tiba, dalam rekaman itu muncul sesosok makhluk menyerupai tuyul,” ujar seorang warga yang minta namanya tidak disebutkan, akhir pekan lalu.
Warga itu mengatakan, setelah rekaman tersebut, salah satu remaja bernama Didi, langsung jatuh sakit selama tiga bulan. Menurut orang pintar yang menyembuhkan Didi, sakitnya siswa SMP itu akibat kemunculan tuyul dalam rekaman yang dibuat temannya melalui ponsel tersebut. “Makanya sejak itu keluarga Didi menolak menceritakan kembali soal kejadian itu, karena takut sakit anaknya kembali kambuh,” katanya.
Hebohnya rekaman video tuyul itu juga diakui Indrajaya, 32, warga Kotabatu, Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor. Ia mengatakan, rekaman itu dia terima sekitar Mei lalu. Saat itu dia tidak menyangka kalau rekaman itu dibuat di daerah Sukamantri. “Justru saya dapat rekaman ini dari teman saya yang kerja di Jakarta. Katanya kejadian ini terjadi di Cianjur, makanya saya kaget pas tahu ternyata kejadiannya nggak jauh dari rumah saya,” katanya.
Dalam rekaman berdurasi 2:44 detik itu terlihat dua remaja main gitar sambil bernyanyi. Dilihat dari rekaman yang gambarnya tidak terlalu jelas itu, dua remaja itu bermain gitar di teras rumah. Tidak diketahui teras rumah siapa tempat mereka berkumpul.
Saat rekaman pada detik ke-44, tiba-tiba muncul sesosok makhluk dari belakang kedua remaja itu sambil berjalan merangkak. Tubuhnya kurus dengan tangan panjang dan kepala botak. Remaja yang merekam gambar itu langsung berteriak kepada dua temannya mengunakan bahasa Sunda. “Di..di aya tuyul din tukangeun sia,” teriak remaja itu sambil berteriak memberitahukan kepada Didi dan rekannya yang saat itu sedang bernyanyi.
Dalam rekaman itu Didi dan temannya sempat melihat ke belakang, namun dia tidak melihat sosok makhluk seperti yang diucapkan temannya itu. Sekitar 10 detik kemudian, sosok makhluk itu menghilang. Namun, tiba-tiba muncul lagi persis di hadapan handphone yang digunakan untuk merekam. Selanjutnya sosok menyeramkan itu kembali menghilang dan muncul lagi di lokasi berbeda hanya berjarak sekitar dua meter dari ketiga remaja itu.
Dari data video itu, rekaman tersebut dibuat tangal 25 April 2009 sekitar pukul 22.45, dengan durasi 2:44 detik.
Ditangkap
Tuyul dalam mitologi Nusantara, terutama di Pulau Jawa, adalah makhluk halus berwujud anak kecil atau orang kerdil dengan kepala gundul. Penggambaran lainnya yang tidak disepakati semua orang adalah kulit berwarna keperakan, bersifat sosial (dalam pengertian memiliki masyarakat dan pemimpin), serta bersuara seperti anak ayam. Tuyul dapat dipekerjakan oleh seorang majikan manusia untuk alasan tertentu, terutama untuk mencuri (uang).
Warga di Perum Puri Nirwana 1 Bogor terpaksa meminta bantuan H Udin, seorang kiai yang bermukim di Jalan Swadaya Kebon Kopi RT 04/10 Pabuaran Cibinong, Bogor. Dari bantuan H Udin, warga akhirnya percaya, karena mereka sering kehilangan uang akhirnya terbukti dengan ditangkapnya dua tuyul berukuran besar dan kecil.
H Udin yang biasa disapa Abah ini mengaku, sebelum menerima permintaan warga Puri Nirwana melalui Hasan, yang juga temannya, ia terlebih dahulu melakukan salat. Setelah itu baru ia mendatangi lokasi. Di sini, lagi-lagi dirinya melakukan ritual khusus untuk mengetahui keberadaan tuyul tersebut.
Dua tuyul yang ditangkap pada Jumat 27/11) malam itu, kini masih berada dalam sebuah botol besar berwarna putih. Sebelum dua tuyul masuk dalam perangkap, Abah terlebih dulu menggoyang botol yang mengeluarkan asap putih.
Saat digoyang, botol tersebut terliaht terasa ringan. Namun beberapa menit kemudian, botol terasa berat. Bahkan Abah terlihat berkeringat, walau suasana saat itu tengah turun hujan. Abah lalu menyampaikan kepada warga, bahwa tuyul sudah masuk dalam perangkapnya.
Terlihat sepintas, memang ada dua bayangan dalam botol. Dua mahluk yang diakui Abah sebagai tuyul itu berukuran besar dan kecil. Tuyul-tuyul itu masih berada di rumah H Udin. Rencananya warga akan melakukan ritual , untuk selanjutnya melepas kedua mahluk tersebut ke alamnya
Jejaring maya Facebook dihebohkan video rekaman “penampakan” sepasang mata mirip mata srigala di atas langit sehari sebelum gempa Tasikmalaya, September lalu. Entah apa makna penampakan itu dengan peristiwa gempa di sana, tapi menurut informasi, penampakan sepasang mata tersebut justru terjadi di atas langit di kota Tasik. Ketika rekaman video berdurasi 1 menit 11 detik itu diputar, terdengar suara azan magrib sementara langit gelap. Di atas langit itulah terlibat sepasang mata aneh tersebut. “Kalau diamati sepasang mata tersebut sekilar seperti mata serigala. Saya sampai merinding melihatnya
Keindahan semburat lembayung di langit Teluk Kabung Kota Padang, Sumatera Barat sore hari pukul 18.30 WIB 8 Oktober 2009 lalu membuat Rinus Indra terpana.