Agar Blog Ini Dapat Berkembang Tolong Diclik Iklan Dibawa Ini

Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

18 Juni 2010

Cara menikmati kopi yang benar

Pada dasarnya, cara yang benar untuk menikmati kopi adalah jika Anda tahu bagaimana kopi tersebut bermanfaat bagi tubuh Anda. Cara yang salah adalah jika kopi justru membuat Anda sakit. Contohnya jika Anda harus menyelesaikan pekerjaan semalaman, lalu minum banyak kopi untuk membuat Anda terus terjaga. Perlu Anda ingat bahwa kopi mengandung racun yang bernama kafein. Seperti obat, kafein bisa menyehatkan sekaligus melukai kita. Terlalu banyak kafein bisa menimbulkan gangguan kesehatan, seperti tekanan darah tinggi, mudah marah, dan gangguan tidur.
Kesalahan lainnya adalah membiarkan anak Anda minum kopi sebagai ganti minuman bergizi lain yang dibutuhkan anak. Kafein dalam kopi bisa berbahaya bagi anak-anak yang masih dalam masa pertumbuhan. Kafein dapat mencuri kalsium dari tulang, dan bisa membuat tulang anak menjadi rapuh.
Inilah cara minum kopi yang disarankan:


Minum lebih sering dalam dosis kecil. Cukup minum seperempat cangkir kopi setiap jam. Jika Anda meminumnya untuk mencegah kantuk, cara ini lebih efektif daripada jika Anda menenggak satu mug besar.


Singkirkan rokok Anda. Minum kopi sambil merokok justru mengurangi daya tahan kafein.


Sesap kopi Anda, lalu tidurlah. Inilah cara terbaik untuk memulihkan energi. Minumlah kopi, lalu tiduran 10 hingga 20 menit. Selama itulah kopi juga membutuhkan waktu untuk menampakkan khasiatnya. Lagi pula, tidur memang satu-satunya cara untuk menjadi bugar. Dengan demikian, Anda akan terbangun dalam keadaan betul-betul segar.


Isi dulu perut Anda. Bohong bila ada yang mengatakan bahwa minum kopi bisa menyingkirkan rasa lapar. Hal itu hanya membuat perut Anda kembung. Justru Anda harus makan sebelum minum kopi.


Anda tidak perlu minum kopi bila:
1. Anda merasa gelisah setelah meminum kopi.
2. Anda mengalami kesulitan tidur (insomnia).
3. Anda punya masalah dengan perut, atau gangguan dalam pencernaan.
4. Anda ingin buru-buru merokok setelah minum kopi.
5. Anda sedang mengonsumsi obat flu atau sakit kepala yang juga mengadung kafein. Hal ini akan melebihi kuota kafein yang aman.

31 Juli 2009

Delapan Ciri Anak Memakai Narkoba

Jangan pernah berpikir anak usia SD masih buta narkoba. Karena, pengedar narkoba sudah makin berani beraksi pada anak-anak usia dini. Yang mengkhawatirkan, menurut data dari situs Badan Narkotika Nasional (BNN), 2007, 15.800 pelajar DKI Jakarta adalah pengguna narkoba, dan 800 pelajar di antaranya adalah anak-anak usia SD.

Bayangkan, itu berarti satu dari 20 pelajar SD pernah mencoba narkoba, atau malah masih mengonsumsi barang terlarang tersebut. Mengkhawatirkan, bukan?

Jadi, bila Anda memiliki anak usia TK atau SD (sekitar 5-11 tahun), bukan berarti Anda terbebas dari masalah ini. Justru, waktu terbaik mengenalkan bahaya narkoba adalah sejak usia dini. Kenali dan praktikkan caranya, agar Anda dapat membesarkan anak yang bebas narkoba. Tanamkan pada anak Anda prinsip: say no to drugs!

Meski saat ini Anda masih dalam proses mengajak anak menjauhi narkoba, tidak ada salahnya Anda juga mengenali ciri-ciri anak dalam pengaruh narkoba. Kuncinya adalah mengenal karakter anak Anda, dan mengenali perubahan kebiasaannya.

Gejala dan ciri bisa terlihat dari fisik dan perilaku. Melalui fisik, kondisi yang perlu dicurigai:

1. Mata si anak berwarna merah. Meski sudah diobati, tetap merah. Perhatikan juga bola matanya.
2. Sering mengantuk, padahal tidurnya cukup.
3. Kulit berwarna pucat.
4. Pola bicara sering kacau. Penggunaan kata tidak pas.
5. Keseimbangan tubuh kacau. Jika diminta lari di tempat, gerakannya tidak terkontrol.
6. Kebiasaan berubah. Tadinya suka makan, kini jadi jarang makan.
7. Jadi cuek. Malas mandi, malas menyisir rambut, jadi tidak peduli pada penampilan. Padahal, sebelumnya tidak begitu.
7. Reaksi berlebihan. Jika ditegur sedikit, bisa langsung meledak-ledak.
8. Sering murung tidak jelas. Komunikasi juka makin berkurang.

Jika 6 dari 8 ciri ini dialami buah hati, ada baiknya Anda mulai mengajaknya berkomunikasi. Jika memang terbukti anak Anda memakai narkoba, anak memerlukan bantuan profesional, psikiater, atau psikolog. Cari informasi di internet atau juga bergabung ke support group orang tua yang mengalami masalah sama.

26 Juli 2009

Rain, wind doesn't wipe out Soap Box Derby

AKRON, Ohio - Sarah Whitaker overcame rain and wind to make her family proud by racing to victory at the 72nd All-American Soap Box Derby.
The 10-year-old, the 15th member of her family to race in the national finals, was one of four girls to claim championships in the six divisions Saturday.
“It’s beyond words, but I can say I just love it,” said Whitaker, from the Akron suburb of Norton, who jumped into her uncle’s arms after climbing out of her race car at the finish line.
Other girls to win were Megan Thornton, of Cleveland, in the Masters Division; Maija Liimatainen, of Madison, Wis., in Super Stock; and Megan Hydutsky, of Pottstown, Pa., in the Rally Masters.
Two 12-year-old boys also won championships. Tyler Fleck, of Perkasie, Pa., won the Rally Stock competition, and Alex Seither, of Mason, Ohio, claimed the Rally Super Stock title.
Whitaker’s uncle Jon Underwood, who competed in the finals in 1976 and 1978, said his niece had “made us all very, very proud.” His dad, John Underwood, was an All-American champion in 1946.
Whitaker said a steady drizzle during the finals caused her car to swerve slightly.
“I don’t know if the track was wet, it was from the wind or just being in Lane 3,” the fifth-grader said. “I always like Lane 1. There’s nothing like being No. 1.”
A near-record 599 finalists, seven fewer than in 2008, competed for a total of $29,000 in college scholarships.

Europe fast-tracking swine flu vaccine

LONDON - In a drive to inoculate people against swine flu before winter, many European governments say they will fast-track the testing of a new flu vaccine, arousing concern among some experts about safety issues and proper vaccine doses.
The European Medicines Agency, the EU's top drug regulatory body, is accelerating the approval process for swine flu vaccine, and countries such as Britain, Greece, France and Sweden say they'll start using the vaccine after it's greenlighted — possibly within weeks.
In an interview with The Associated Press, Dr. Keiji Fukuda, the World Health Organization's flu chief, warned about the potential dangers of untested vaccines, although he stopped short of criticizing Europe's approach outright.

19 Juni 2009

Report to detail interrogations, secret detention

WASHINGTON – The government is preparing to release a long-delayed internal report on the CIA's secret detention and interrogation program. How much of the document will be declassified for public view isn't yet known.

The roughly 150-page report was expected to be released Friday, but a CIA spokesman said Thursday that government officials were still poring through the documents.

"The CIA is reviewing the report to determine how much more of it can be declassified in accordance with the Freedom of Information Act," said George Little, the spokesman.

Responding to reports that CIA officials were pressing to redact large portions of the documents, Little said, "This is not about fighting for or against redactions_ it's about applying the law."

The review by the inspector general for the CIA was completed in May 2004. John L. Helgerson, the now-retired CIA inspector who spearheaded the investigation, said Thursday that the report is "a comprehensive look at everything the agency had been doing related to detention and interrogation."

Helgerson said the review covered "activities within the formal approved program, and it also included a reference to activities that went on outside the formal program."

"We found a great deal running very well. We also found things to be concerned about," Helgerson said. The investigation was conducted in response to concerns expressed by agency employees about the program, he added.

The government released a heavily redacted version of Helgerson's report last year to the American Civil Liberties Union as a result of its ongoing Freedom of Information Act lawsuit on the program. All but a few paragraphs and individual words were blacked out.

Helgerson said a large portion of the report addresses CIA activities, sources and methods that should remain classified.

The ACLU is pressing for the full release of the report.

"The public has a right to know what took place in the CIA's secret prisons, and on whose authority," Jameel Jaffer, director of the ACLU National Security Project, said in a statement issued this week.

Some of the details that were blacked out last year have since been released in other documents. The Obama administration this spring declassified a slew of Bush-era Justice Department memos on the CIA's interrogation program that outlined the methods and legal rationales for the program.

The interrogation methods included waterboarding, a simulated drowning technique that President Barack Obama recently pronounced a form of torture.

The IG review cast doubt on the effectiveness of the harsh interrogation methods employed by CIA interrogators, according to references to the report contained in the Justice Department memos.

The IG review also quoted medical personnel who questioned the safety and effectiveness of the waterboarding, as applied by the psychologist/interrogators who conducted the sessions.

It described the technique as producing the "sensation of drowning and suffocation," according to a footnote in another legal memo, and noted that it was carried out differently than was approved by the Justice Department in a 2002 legal opinion.

15 Juni 2009

PENERIMAAN MAHASISWA BARU PERGURUAN TINGGI NEGERI MELALUI SELEKSI NASIONAL MASUK PERGURUAN TINGGI NEGERI (SNMPTN) 2009

  1. Persyaratan :
    • Lulus Ujian Nasional SMA/MA/SMK/MAK atau setara tahun 2007, 2008, dan 2009.
    • Lulusan paket C dengan menyerahkan Foto Copy Raport 3 tahun terakhir.
    • Memiliki kesehatan yang memadai sehingga tidak mengganggu kelancaran proses belajar mengajar di Perguruan Tinggi.
    • Tidak buta warna bagi Program Studi tertentu.
  2. Biaya Pendaftaran dan Uji Keterampilan :
    • IPA/IPS Rp. 150.000,-
    • IPC Rp. 175.000,-
    • Uji Keterampilan Olahraga dan Seni Rp. 100.000,-
  3. Pendaftaran dimulai tanggal 1 Juni 2009
  4. Pembelian formulir mulai tanggal 1 - 26 Juni 2009 di seluruh cabang Bank Mandiri di wilayah RI
  5. Penukaran formulir dengan format SNMPTN mulai tanggal 15-26 Juni di Panitia Lokal.
  6. Pengembalian formulir pendaftaran SNMPTN mulai tanggal 15-27 Juni di Panitia Lokal.
  7. Test tertulis tanggal 1-2 Juli 2009.
  8. Pendaftaran test keterampilan bidang olahraga dan seni tanggal 1-2 Juli di tempat tes tertulis masing-masing perguruan tinggi negeri.
  9. Pelaksanaan ujian praktek olahraga dan seni tanggal 3-4 Juli di PTN terdekat yang menyelenggarakan ujian ketrampilan.
  10. Ujian tulis:
    • Rabu 1 Juli 2009 : Test Potensi Akademik dan Test Bidang Studi Dasar.
    • Kamis 2 Juli 2009: Bidang studi dasar IPA dan bidang studi.
  11. Ujian Ketrampilan
    • Pendaftaran Rabu dan Kamis, tanggal 1 dan 2 Juli 2009 di tempat ujian tulis.
    • Pelaksanaan Uji Ketrampilan hari Jum'at dan Sabtu, tanggal 3 dan 4 Juli 2009.
  12. Bobot penilaian tes potensi akademik (TPA) 30 % bidang studi dasar 70%
  13. Bidang studi yang ada test praktek bidang studi TPA dan bidang studi dasar 60 % tes ketrampilan 40%.
  14. Sistem penilaian :
    • Benar - 4
    • Salah - 1
    • Kosong - 0
  15. Sistem penilaian menggunakan sistem presentil, artinya siswa diharapkan dapat menjawab soal-soal secara merata untuk seluruh bidang studi.
  16. Siswa yang menjawab hanya bidang studi tertentu meskipun jumlah nilai tinggi belum tentu lulus. Lebih baik siswa menjawab materi soal yang merata untuk seluruh bidang studi, meskipun jumlah nilai kecil, kemungkinan lulus besar, daripada nilai besar tapi tidak merata di seluruh bidang studi.
Sumber vivanews.com

12 Juni 2009

Hasil Ujian Nasional Ditolak buat Masuk PTN

Rektor-rektor Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Bandung menilai, rencana dijadikannya hasil Ujian Nasional (UN) sebagai salah satu alat ukur seleksi calon mahasiswa masuk PTN belum bisa diterapkan. Di sisi lain, pemerintah optimistis rencana ini bisa dilaksanakan tahun 2010.

Penolakan itu disampaikan secara tegas oleh Rektor Institut Teknologi Bandung (ITB) Djoko Santoso dan Rektor Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung Sunaryo Kartadinata dalam jumpa pers di sela-sela seminar nasional memperingati Hari Pendidikan Nasional, Kamis (7/5) kemarin di Kampus UPI.

”Mengapa belum bisa? Sebab, saat ini belum terlihat adanya niatan baik dari para peserta dan pendidiknya mengikuti UN. Kalau sudah ada (niat baik) dan hasilnya dari kejujuran, bisa dipertanggungjawabkan, mungkin bisa dipertimbangkan,” ujar Djoko Santoso, yang juga Ketua Majelis Rektor PTN. Hingga saat ini, ujarnya, masih banyak terjadi kasus kecurangan dalam penyelenggaraan UN di daerah.

Sunaryo Kartadinata mengatakan, fungsi UN lebih sebagai alat ukur keberhasilan siswa, bukan alat seleksi prediktif untuk mengukur kemampuan calon siswa. ”Apalagi, tidak setiap siswa peserta UN itu berniat melanjutkan ke PTN. Tidak bisa disamakan tujuannya,” ucapnya.

Dalam kesempatan ini, pakar pendidikan, Arief Rachman, mengatakan, wajar jika PTN menolak hasil UN sebagai salah satu alat ukur seleksi mahasiswa baru. Sebab, tiap-tiap PTN memiliki standar, ukuran, dan keperluan sendiri terhadap calon mahasiswa yang dicarinya. Tidak bisa disamaratakan satu sama lain.

”Bentuknya saja beda, kan? Ujian dan seleksi itu jelas hal yang berbeda,” ujar Arief. Ia menilai kasus kecurangan UN lebih banyak yang tidak terungkap daripada yang muncul di permukaan.
sumber : kompas.com

Pengumuman Hasil Ujian Nasional 2009

Saya sangat prihatin dengan banyaknya kejadian bocornya soal-soal ujian nasional belakangan ini hal ini dapat menjadi perhatian kita semua bagaimana rendahnya mutu pendidikan kita. saya sangat penasaran mengapa hal ini bisa sampai terjadi atau hal semacam ini memang disengaja untuk meningkatkan persentase kelulusan siswa. Bahkan perna saya baca dibeberapa harian ibukota bahwa sosl-soal ujian nasional yang bocor banyak yang jawabannya ngawur alias salah semua sungguh sangat disayangkan hal ini bisa terjadi bukannya nilai menjadi baik malah hancur semua. Saya menghimbau kepada pihak-pihak yang berwenang lebih memperhatikan hal tersebut bukan saja merugikan siswa tapi juga mencoreng dunia pendidikan kita.Dan untuk siswa-siswa saya menghimbau untuk tidak terpengaruh oleh bujuk rayu orang atau oknum yang menawarkan kunci jawaban dari soal-soal ujian nasinal dan hendaknya kita semua dapat lebih tekun untuk belajar agar dapat menyelesaikan soal-soal ujian nasional dengan benar.

Hasil Ujian Nasional 2009

Pengumuman hasil ujian nasional Provinsi Jawa Tengah akan dilakukan pada pertengahan Juli mendatang. Ketua Panitia Ujian Nasional Provinsi Jawa Tengah Nur Hadi menyatakan, pengumuman untuk ujian nasional tingkat sekolah menengah atas dan sederajatnya maksimal akan dilakukan pada pekan kedua bulan Juli.

"Sedangkan untuk siswa SMP dan sederajat maksimal akan diumumkan pada pekan ketiga Juli," kata Nur Hadi saat dihubungi, Ahad (3/5).

Penilaian hasil ujian nasional melalui beberapa tahap. Dari sekolah kemudian dikumpulkan di dinas pendidikan tingkat kabupaten/kota dan selanjutnya dilakukan pemindaian di Universitas Negeri Semarang. Setelah itu, hasil pemindaian tersebut dikirimkan ke Jakarta untuk dibaca dan diberi skor oleh Badan Nasional Standar Pendidikan. "Selanjutnya, BNSP mengeluarkan lembar hasil ujian nasional," katanya. Lembar hasil ujian inilah yang akan dikirimkan ke Dinas Pendidikan untuk kemudian dibagikan ke sekolah-sekolah.

Dinas Pendidikan Nasional mentarget kelulusan ujian nasional tahun ini mencapai 92 persen. Target itu naik satu persen dibanding hasil ujian nasional tahun lalu yang mencapai 91 persen. Peserta ujian nasional tingkat SMP dan SMA atau sederajat di Jawa Tengah tahun ini mencapai 814.791 siswa. Jumlah ini terdiri dari SMA sebanyak 130.195 siswa, Madrasah Aliyah sebanyak 33.340 siswa, SMK 130.283 siswa, SMP sebanyak 393.641 siswa, MTs sebanyak 124.185 siswa, dan SMP luar Biasa 142.000.

22 April 2009

Homeschooling

Homeschooling. Tahun tahun belakangan ini menjadi trend di beberapa kota besar seperti Jakarta. Konsep bersekolah yang tidak mengharuskan siswa hadir di kelas tiap hari ini menjadi alternatif pendidikan bagi anak anak usia sekolah. Alasan mereka berbeda beda, ada yang karena keterpaksaan, ada juga yang memang memilih untuk belajar mandiri. Beberapa paparan berikut mungkin bisa dijadikan gambaran.

1.Karier dan pola didik keluarga
Bagi pelajar yang mempunyai kesibukan berkarier, bersekolah di sekolah formal tentu menjadi bermasalah. Misalkan pekerja seni profesional atau atlet profesional. Karier mereka menuntut waktu yang cukup banyak dan kadang tak tentu. Sering membolos akan membuat repot pihak sekolah, apalagi kalau si siwa diragukan kemampuan akademiknya.

Sebetulnya sama juga dengan keluarga yang memutuskan bahwa pendidikan formal tidak seharusnya menyita waktu yang terlalu banyak. Keluarga seperti ini berkeyakinan bahwa banyak hal-hal lain yang perlu dipelajari anak untuk bekal kehidupannya daripada pendidikan formal itu sendiri. Atau keluarga yang pekerjaannya berpindah-pindah kota atau bahkan negara. Homeschooling memang pilihan yang rasional. Bagi keluarga yang sudah familiar dengan sistem pendidikan ini, biasanya akan membeli kurikulum dari luar negeri seperti Inggris atau Amerika, yang sudah mempunyai kurikulum paten untuk homeschoolers.

2. Mempunyai catatan buruk di sekolah formal
Tidak naik kelas, dikeluarkan dari sekolah formal, sekarang ini sering kali dijadikan alasan bagi siswa untuk memilih homeschooling di Indonesia. Ini adalah faktor negatif dari sistem homeschooling. Ketidakmandirian dan ketidakmampuan siswa untuk belajar mendorong munculnya praktek-praktek ilegal dalam mencari kelulusan atau sertifikat.

3. Anak yang luar biasa
Kurikulum di sekolah formal, baik materi maupun waktu pembelajarannya disusun untuk anak dengan kemampuan rata-rata. Anak dengan kemampuan di atas atau jauh di atas rata-rata kemungkinan akan bermasalah dengan kurikulum tersebut. Menurut mereka pelajaran di sekolah terlalu lambat atau terlalu bertele-tele. Pada prakteknya memang anak seperti ini bisa menyelesaikan program belajarnya lebih cepat dari waktu sekolah formal, dengan nilai yang maksimal. Memang sekolah-sekolah unggulan sekarang banyak yang menyediakan kelas akselerasi, tetapi homeschooling dengan beberapa keunggulannya tetap bisa dijadikan pilihan.

Sebetulnya ada kelompok keempat dan kelima yang mempunyai alasan lain untuk memilih ber-homeschooling. Yaitu anak yang malas tidak mau sekolah dan anak (atau orang tua) yang tidak tahan kalau tidak mengikuti trend. Ini alasan paling menyedihkan, tapi tidak sedikit di Jakarta anak-anak yang seperti itu. Biasanya mereka menggunakan alasan nomor satu sebagai kamuflase. Dan komunitas homeschooling yang sekarang ini, tidak bisa dibantah, banyak yang memang bertujuan mencari keuntungan finansial, akan melayani tanpa banyak tanya.

Jika kita telaah secara obyektif sistem pendidikan ini, kita akan menemukan keuntungan yang banyak dari sistemnya. Karena sistem homeschooling ini sangat fleksibel untuk diterapkan di keluarga manapun yang sudah mempunyai program dan komitmen yang pasti dalam membesarkan anak-anak mereka.

Memilih Sekolah untuk Anak

Jika para orang tua sudah memutuskan untuk memasukkan anaknya ke jenjang pendidikan dasar (SD dan SMP) atau menengah (SMA atau kejuruan), hal hal berikut ini sebaiknya menjadi bahan pertimbangan.

Biaya
Lebih bijak bagi orang tua untuk menyekolahkan anak sesuai dengan kemampuan ekonominya. Memang ada orang tua yang rela berhutang atau menjual barang-barang produktif milik keluarga untuk membiayai anaknya yang bersekolah di sekolah bergengsi. Tetapi bukankah mengajarkan kesahajaan dan kesederhanaan itu lebih bermanfaat bagi kehidupan anak daripada pendidikan akademik itu sendiri? Pendidikan dasar di beberapa tempat memang sudah digratiskan, tetapi biaya buku, seragam, kegiatan dan lain-lain sebaiknya diperhatikan juga.

Nilai
Seleksi masuk sekolah, baik itu melalui nilai UAN atau tes masuk, juga menjadi bahan penentuan di mana anak akan bersekolah. Pernah saya bertanya pada seorang ibu yang anaknya baru beberapa minggu duduk di kelas tiga SMP, Anaknya nanti akan meneruskan SMA di mana, Bu? Jawab Ibu itu, Nanti lihat nilainya. Ini cara yang salah untuk membuat keputusan. Tentukan dahulu targetnya, kemudian ajarkan dan dukung anak untuk berusaha mencapai target tersebut. Jika anak terbiasa seperti itu dia akan merasakan banyak manfaat dalam kehidupannya.

Jarak
Perjalanan ke sekolah akan dilakukan anak setiap hari, berangkat dan pulang. Jarak tempuh ke sekolah tentunya menjadi bahan pertimbangan. Rute yang lebih dekat atau lebih mudahlah yang menjadi pilihan. Rute yang jauh atau sulit selain akan memakan waktu, tenaga, mungkin juga ongkos dan pikiran.

Pergaulan
Di beberapa sekolah, biasanya SMP atau SMA, rawan tawuran, tempat ‘nongkrong’ yang tidak ada tujuan produktif, atau teman-teman yang ‘mengkhawatirkan’ menurut orang tua. Tentunya ini juga menjadi bahan pertimbangan. Walaupun si anak ‘baik-baik saja’, tetapi kalau lingkungannya ‘berbahaya’ tentu akan mengkhawatirkan juga. Ada juga orang tua yang memindahkan anaknya dari sekolah yang kompleknya dekat dengan suatu universitas. Karena di situ anak menjadi lebih cepat ‘dewasa’ atau lebih tepat dikatakan sok dewasa, tanpa diikuti dengan kedewasaan yang sesungguhnya.

Jam belajar/Kurikulum
Orang tua yang teliti memilih sekolah, biasanya menanyakan apa saja pelajaran yang akan diajarkan nanti. Apa muatan lokal yang diberikan di sekolah tersebut. Dan buku apa yang digunakan. Apa kegiatan ekstrakurikulernya. Orang tua yang lebih berani akan menanyakan guru-gurunya lulusan mana, seperti apa metode mengajarnya dan bagaimana manajemen sekolah. Tapi biasanya pertanyaan-pertanyaan terakhir ini ditujukan pada sekolah-sekolah swasta di kota yang persaingannya ketat dalam mencari murid baru, umumnya di kota besar dan kota pendidikan.

Minat Anak
Anak-anak seusia SD, SMP, apalagi SMA biasanya sudah punya pendapat sendiri dalam memilih sekolahya. Orang tua sebaiknya mendengarkan dan memasukkan pendapat mereka ini dalam bahan pertimbangan. Jika orang tua merasa yakin bahwa pilihan anak itu kurang tepat karena kadang pertimbangan mereka kurang matang, bantahlah dengan argumen yang bisa diterima anak. Atau jika mereka memilih sekolah karena ikut-ikutan, ajari mereka bahwa semua keputusan ada konsekuensinya, dan bantulah mereka melihat kemungkinan-kemungkinan lain yang bisa mereka pilih.

Sekolah Kejuruan
Orang tua yang ingin anaknya cepat mandiri, biasanya menyekolahkan anak ke sekolah kejuruan, yang sesuai dengan minat. Karena lulusan sekolah kejuruan sudah mempunyai kecakapan khusus dan lebih bisa diterima di beberapa perusahaan. Tetapi sekarang ini trendnya mulai bergeser, untuk tenaga ahli, banyak perusahaan yang cenderung memilih tenaga lulusan Diploma 3.

Pada hakikatnya anak-anak, yang belum dewasa, mempunyai hak untuk didampingi oleh orang tuanya, baik dalam mengambil keputusan ataupun dalam menjalani konsekuensi dari keputusan tersebut. Jika dari semua pertimbangan di atas tidak ada yang sesuai dengan kemauan dan kemampuan orang tua dan anak, pendidikan alternatif mungkin bisa dijadikan pilihan.

SIAPA LEBIH MERUSAK LINGKUNGAN: ORANG MISKIN ATAU ORANG KAYA?

  1. Jika hutan kita menjadi gundul atau terbakar, sehingga lingkungan hidup kita rusak, siapa biang keladinya? Penduduk miskin di hutan-hutan dan sekitar hutan menebang hutan negara untuk memperoleh penghasilan untuk makan. Tetapi kayu-kayu yang diperolehnya ditampung calo-calo untuk dijual, dan kemudian dijual lagi untuk ekspor, yang semuanya “demi keuntungan”. Siapa yang paling bersalah dalam proses perusakan lingkungan ini? Yang jelas tidak adil adalah kalau yang disalahkan hanya orang-orang miskin saja, sedangkan orang-orang kaya adalah “pahlawan pembangunan”.

  1. Apabila dikatakan penduduk miskin terbiasa ... “membuang kotoran manusia secara sembarangan yang akan berakibat pada terjangkitnya diare ...” atau “penduduk miskin hanya menekankan pada upaya pemenuhan kebutuhan dasar untuk bertahan hidup, dan mereka cenderung mengabaikan pemeliharaan lingkungan sekitar”, kiranya pernyataan ini juga tidak adil. Pemenuhan kebutuhan pokok penduduk miskin bukan masalah “hanya”, tetapi “mutlak” harus dipenuhi untuk hidup. Penduduk miskin tidak memperhatikan lingkungan hidup sekitarnya bukanlah karena mereka tidak peduli, tetapi karena mereka melakukannya dengan terpaksa.

  1. Agar adil kita harus mengakui bahwa kerusakan lingkungan khususnya hutan, disebabkan para pemodal yang haus keuntungan, “memesan” kayu dalam jumlah besar sebagai bahan baku industri yang memang permintaannya sangat besar pula. Akumulasi keuntungan dan kekayaan yang tidak mengenal batas harus dianggap sebagai penyebab utama kerusakan/pengrusakan hutan, bukan karena orang-orang miskin banyak yang merusak hutan. Maka untuk menjamin terjadinya pembangunan yang berkelanjutan kita harus menghentikan keserakahan orang-orang kaya. Adalah sangat keliru ilmu ekonomi justru memuja “keserakahan”.

  1. Perkembangan pedagang kaki lima (PKL) yang tumbuh menjamur dimana-mana, yang dianggap merusak lingkungan karena mengotori jalan dan mengganggu ketertiban, juga tidak mungkin ditimpakan kesalahannya pada PKL karena pekerjaan itulah satu-satunya “mata pencaharian” yang dapat dilakukan dalam kondisi kepepet. Ia menggunakan modal sendiri dengan resiko usaha ditanggung sendiri, tidak ada subsidi apapun dar pemerintah, dan memang ada pembeli terhadap barang/jasa yang ditawarkannya. Jadi dalam hal ini lingkungan yang rusak harus diselamatkan melalui upaya-upaya “pencegahan” munculnya PKL, bukan dengan “menggusurnya” setelah berkembang. PKL bukan “masalah” tetapi ”pemecahan” masalah kemiskinan.

  • Kesimpulan kita, pendekatan terhadap masalah “pengurangan kemiskinan dan pengelolaan lingkungan” atau sebaliknya terhadap “pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan dan strategi penanggulangan kemiskinan” selama ini kiranya salah dan tidak adil, karena melihat kemiskinan sebagai fakta tanpa mempelajari sumber-sumber dan sebab-sebab kemiskinan itu. Akan lebih baik dan lebih adil jika para peneliti memberi perhatian lebih besar pada sistem ekonomi yang bersifat “serakah” dalam eksploitasi SDA, yaitu sistem ekonomi kapitalis liberal yang berkembang di Barat, dan merajalela sejak jaman penjajahan sampai era globalisasi masa kini. Sistem ekonomi yang tepat bagi Indonesia adalah sistem ekonomi pasar yang populis dan mengacu pada ideologi Pancasila
  • di kutip dari Prof. Dr. Mubyarto